Program Modernisasi Peralatan Pertanian Kementan Mendapatkan Apresiasi dari Peneliti

Program Modernisasi Peralatan Pertanian Kementan Mendapatkan Apresiasi dari Peneliti



Program Modernisasi Peralatan Pertanian Kementerian Pertanian Mendapat Penghargaan dari Para Peneliti
Bulatin.com – Peneliti Pusat Studi Kebijakan Indonesia (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengapresiasi beberapa program modernisasi peralatan pertanian dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang disebut sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, sekarang pemerintah melalui Kementerian Pertanian layak diberi penghargaan untuk program modernisasi peralatan pertanian yang berkelanjutan serta subsidi benih dan pupuk. Meskipun ada banyak yang masih perlu diperbaiki dan dinaikkan.
"Di sisi lain, penutupan pilihan makanan dengan harga yang lebih mudah diakses dengan keinginan untuk swasembada dalam makanan adalah tindakan yang disayangkan," kata Assyifa Szami Ilman, Senin (15/4).
Ilman menjelaskan, kini pemerintah mulai bisa berkonsentrasi untuk mencapai ketahanan pangan nasional. Karena jika kebanyakan orang mengonsumsi produk impor, tentu saja petani lokal tidak memiliki konsumen.
Oleh karena itu, katanya, petani lokal memerlukan dukungan untuk dapat bersaing dengan petani internasional dengan pola program yang dapat membantu mendorong biaya produksi yang lebih rendah.
Dia memperingatkan bahwa swasembada pangan di Indonesia yang terjadi selama periode Orde Baru memerlukan persiapan selama 15 tahun, mulai dari tahun 1969 hingga 1984, dan biaya yang besar.
Persiapan dan biaya besar hanya dapat menciptakan swasembada pangan dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, yaitu dari 1984 hingga 1990. Selain itu, penutupan perdagangan pangan internasional juga meningkatkan risiko kelangkaan pangan selama bencana, apalagi Indonesia juga merupakan negara yang dikenal memiliki kekuatan bencana yang sangat beragam.
"Program untuk meningkatkan produktivitas petani dan dalam bentuk menekan biaya produksi layak untuk dipromosikan, tetapi tidak secara langsung pada swasembada pangan, tetapi untuk memastikan keterjangkauan pangan bagi konsumen dan menghindari ketergantungan yang berlebihan pada perdagangan internasional," katanya.
Ilman melanjutkan, ketahanan pangan adalah kunci keberlanjutan pembangunan nasional. Dengan menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas makanan dengan tidak membatasi asal sumber makanan, pemerintah otomatis juga memainkan peran dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Direktur Jenderal Pemasaran dan Fasilitas Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy menyatakan langkah apa yang telah diambil Kementerian Pertanian untuk merealisasikan Program Pengembangan Pertanian Indonesia menuju Gudang Pangan Dunia pada tahun 2045.
"Untuk mewujudkan World Food Barn pada tahun 2045 ada banyak pendekatan yang perlu kita kerjakan termasuk pendekatan untuk memodernisasi pertanian." Kami akan memaksimalkan penggunaan mesin pertanian dan mesin untuk membuatnya lebih efektif, lebih murah dan produk-produk berkualitas lebih baik, " kata Sarwo Edhy.
Keberadaan bantuan alsintan beri kepada petani / kelompok tani memang merupakan tanda pergeseran pertanian Indonesia dari tradisional ke modernisasi. Bahkan sejak tiga tahun terakhir, sekarang sawah di negara itu mudah dilihat oleh petani menggunakan Alsintan, baik tempat waktu pemrosesan, penanaman hingga panen.
Sarwo Edhy mengakui, dengan Alsintan itu tidak terbatas untuk membantu petani mengatasi penyusutan tenaga kerja pertanian, tetapi juga lebih efektif dalam melakukan pertanian. Pemerintah telah memberikan bantuan Alsintan sekitar 720 ribu unit dengan beberapa jenis.
Data dari Direktorat Jenderal PSP, sejak 2015, pemerintah telah memberikan bantuan untuk sekitar 54.083 unit, pada 2016 sekitar 148.832 unit, pada 2017 sekitar 82.560 unit, dan pada 2018 sekitar 112.525 unit. Alsintan sudah dialokasikan untuk kelompok tani / kelompok tani, UPJA dan brigade alsintan.
Pada 2019, Kementerian Pertanian akan mendistribusikan sekitar 50.000 unit Alsintan. Alsintan berupa traktor roda dua (20 ribu unit), traktor roda empat (3 ribu unit), pompa air (20 ribu unit), transplantasi padi (2 ribu unit), pembudidaya (4.970 unit) dan excavator ( 30 unit). .



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *